Napak Tilas 10 Tahun Timor Leste Merdeka

Bagaimana kondisi Timor Leste setelah 10 tahun lepas dari NKRI saat ini? Penulis berkesempatan mengunjungi negeri Xanana Gusmao pada tahun baru 2013 lalu

Kisah Pengajar Muda Muara Enim : Setahun untuk Selamanya

Pengalamanku sebagai guru bantu di pelosok Muara Enim merupakan pelajaran berharga bagi saya. Saya akan membagi kehebatan anak-anak di Talang Tebat Rawas ini yang begitu menginspirasi saya sebagai seorang guru

Menjelajahi Ujung Selatan Indonesia, Pulau Rote Ndao dan Pulau Ndana

Pulau Rote Ndao menyimpan kekayaan alam dan budaya yang sangat potensial. pantai-pantai indah yang belum terjamah oleh manusia beserta keunikan geografis pulau rote ndao menjadi daya tarik tersendiri. Simak berbagai pengalaman saya dan tim Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia tahun 2010 di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Miangas : Eksotika Pulau Paling Utara Indonesia

Pulau miangas yang berada di garda terdepan Indonesia berbatasan dengan Filipina menyimpan pesona keindahan yang layak untuk dinikmati. Berikut kisah kami tim Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI di Pulau Miangas tahun 2009

Pesona Pulau Sempu, Malang

Menikmati suasana pulau tak berpenghuni di Pulau Sempu sangat mengasyikan. Menikmati malam penuh bintang dan tidur di pasir Laguna sambil menatap bintang dan minum kopi panas menjadi alternatif liburan yang menarik

Showing posts with label K2N UI. Show all posts
Showing posts with label K2N UI. Show all posts

Thursday, June 23, 2011

52 jam Depok-Miangas

Perjalanan Depok-Miangas merupakan perjalanan terjauh dan terlama yang pernah saya rasakan sampai saat itu. Betapa tidak, jika ditotal perjalanan saya dari depok menuju Miangas adalah 52 jam, itu sudah termasuk waktu untuk acara packing di kampus dan acara pembukaan oleh Gubernur Sulawesi Utara di Manado. Berhubung ini trip pertama saya bersama teman-teman kampus yang jaraknya jauh, ada saja hal yang menggelikan sepanjang perjalanan.

Gedung PPMT, 14 Juli 2009, Pkl. 20.00 WIB

Kehebohan melanda seantero gedung Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu (PPMT). Masing-masing orang sibuk dengan barang-barang bawaanya masing-masing. Beberapa kebingungan memilah mana barang-barang yang harus di bawa dan mana yang terpaksa ditinggal. Aturan yang membatasi jumlah bagasi mahasiswa hanya 15 kg cukup membuat kepala cenat-cenut. Saya yang pertama bepergian untuk waktu sebulan tentu memasukkan banyak baju dan cemilan untuk memastikan saya disana tidak kelaparan hehe. Hal itu membuat beban koper saya 20 kg, imbasnya saya harus mengurangi 5 kg beban koper saya. Belum lagi barang-barang kelompok yang akan digunakan untuk program selama disana sangat banyak dan masih harus ditandai dengan kertas putih diatas kardus-kardus yang sudah di.ikat rapi. Kira-kira jam 22.00 saya berhasil membuat beban koper saya menjadi 15 kg lebih sedikit. Saya tidak ambil pusing dengan kelebihan nol koma sekian kg, segitu saja sudah membuat kepala pusing. Saya meninggalkan jaket saya dan 2 kaos karena ternyata saya mendapat lagi jaket dan kaos K2N, saya juga akhirnya mengeluarkan 4 underwear saya dan lebih memilih membaawa 4 pack disposable (dan ini merupakan keputusan yang saya sesali setibanya di Pulau Miangas ! ) serta menghabiskan beberapa coklat yang saya bawa.


Gedung PPMT, 15 Juli 2009, Pkl. 01.00

Ketua panitia K2N UI 2009 melakukan briefing sebelum pemberangkatan. Kami disarankan untuk selalu bersama-sama dnegan anggota kelompok kami dan melapor apabila ingin ke toilet atau bepergian sendiri tanpa rombongan. Setelahnya, kami langsung naik ke bis kuning yang akan membawa kami dari depok menuju bandara soekarno hatta. Saya sempat heran mengapa sepagi itu kami berangkat ke Soeta padahal pesawat baru boarding jam 05.00 WIB, teman saya bilang panitia tidak mau mengambil risiko telat dan supaya kita menjadi orang pertama yang memasukkan barang-barang ke bagasi. Setelah melihat sendiri bawaan 71 anak dan juga barag kelompok yang harus di kargo saya pun paham. Kami menggunakan 3 bis kuning AC untuk ke bandara Soeta. Pukul 01.30 WIB bus pun meluncur di jalanan Jakarta yang lengang.



Bandara Soekarno Hatta, 15 Juli 2009 Pkl. 02.30

Kami sampai di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih satu jam berikutnya. Bus kuning yang kami naiki melaju kencang diatas jalanan ibukota yang sepi. Kami langsung menurunkan barang-barang bawaan pribadi dan kelompok. Dengan koper, saya merasa bawaan saya lebih ringan dibandingkan dengan teman-teman yang memakai carrier, padahal panitia menyarankan kami semua agar menggunakan tas ransel besar/carrier saja supaya lebih mudah dibawa. Setelah siap semua, kami harus menunggus ampai gate dibuka. Kami akan menggunakan Lion Air penerbangan ke Manado pkl. 05.00. Sambil menunggu, beberapa dari kami bermain UNO banyak juga yang memanfaatkan waktu singkat itu untuk tidur. Anak-anak K2N bergeletakan dilantai berbantalkan ransel mereka.

Soeta, 15 Juli 2009 Pkl. 05.00

Pesawat Lion Air yang kami naiki akhirnya terbang juga. Sebagian besar mahasiswa tidur sepanjang perjalanan namun setelah kurang lebih terbang selama 2 jam kami berada diatas daratan pesisir Sulawesi yang tampak indah terkihat dari atas pesawat kami. Semakin ke utara kami bisa melihat pantai bunaken sebelum akhirnya pesawat mendarat di bandara sam ratulangi manado.

Bandara Sam Ratulangi, Manado 15 Juli 2009 pkl 10.00 WITA

Tiba di bandara kami langsung disambut oleh beberapa anggota TNI berpakaian dinas. Acara K2N UI ini memang didukung penuh oleh panglima TNI, berbagai fasilitas, transoprtasi dan keamanan dari TNI selalu mengawal kami selama berada di perjalanan dan di Miangas. Di luar bandara sudah disiapkan sekitar 8 bis TNI berwarna hijau tua untuk membawa kami ke Gedung Yos Sudarso, Manado untuk melakukan acara pelepasan peserta K2N 2009. Pawai bak orang penting pun baru sekali ini saya rasakan, dikawal 4 motor polisis di depan, iring-iringan bis-bis kami bebas melaju dengan kencang. Di dalam bis kami sudah bisa merasakan panasnya cuaca Manado. Hanya sekitar 20 menit sampai akhirnya kami sampai di tempat pelepasan peserta K2N 2009.


Gedung Yos Sudarso, Manado 15 Juli 2009 Pkl. 11.00 WITA



Di gedung yos sudarso, kami mendengarkan beberapa sambutan dari Rektor UI, Bpk Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri yang berpesan untuk melakukan program secara maksimal untuk masyarakat perbatasan, kemudian dari Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud, dr. Elly Lasut serta Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Utara mewakili Gubernur Sulut. Setelah seremonial tersebut kami break solat, makan siang dan dilanjutkan dengan pengarahan dari TNI terkait Miangas dan perjalanan yang akan dilalui menggunakan KRI, acara berakhir sekitar pulul 15.00 WITA. Setelah acara tersebut rombongan langsung melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bitung selama kurang lebih satu jam perjalanan.



Pelabuhan Bitung, 15 Juli 2009 Pkl. 16.00

Tiba di pelabuhan Bitung, kami langsung menuju kapal TNI yang akan mengangkut rombongan ke Pulau Miangas, yaitu KRI teluk Cendrawasih. Setelah memasukkan barang-barang kami ke kapal yang sangat besar itu kami menunggu di luar karena kapal masih perlu mengisi bahan bakar dan memakan waktu hamper 1 jam. Kami melakukan upacara pemberangkatan di pelabuhan Bitung dekat KRI Teluk Cendraeasih bersandar. Seremoni ini biasa dilakukan para awak kapal dari TNI AL sebelum melakukan perjalanan. Komandan KRI menjelaskan situasi cuaca secara umum dan lamanya perjalanan yang akan kami tempuh serta aturan-aturan di dalam KRI yang patut ditaati oleh semua warga sipil yang ikut perjalanan di dalam KRI. Dengan KRI kami hanya membutuhkan 19 jam perjalanan apabila cuaca dan ombak sedang baik, jika ombak tinggi akan lebih lama lagi karena arus yang kuat menahan laju KRI. Selesai upacara kami langsung masuk ke dalam KRI.

KRI Teluk Cendrawasih, 15 Juli 2009 Pukul 18.30

Karena lelah setelah mengangkut barang dan perjalanan sepanjang hari, tidak seperti yang lainnya yang berfoto di buritan, saya memilih mengistirahkan diri. Kamar pria berada di bawah dekat dengan ruang mesin dan bahan bakar, sebetulnya itu memang ruangan mesin namun ditaruh beberapa ranjang lipat TNI untuk kami. Kami memaklumi, karena kamar-kamar di KRI ini penuh oleh siswa-siswi SMA se-Sulawesi Utara yang sedang melakukan acara berlayar bersama TNI dalam rangkaian acara Sail Bunaken 2009. Alhasil, kamar kami sangat panas dan berisik, entah bagaimana caranya saya tetap bisa tidur di bawah.

KRI Teluk Cendrawasih Pukul 21.00 WITA



Saya terbangun mendadak karena pusing bukan kepalang, ombak kencang mengocok-ngocok perut saya. Karena tidak tahan ingin muntah ditambah perut keroncongan saya naik ke kantin di bagian atas kapal untuk makan. Disana sudah banyak peserta K2N yang makan. Menunya nasi ditambah ikan bakar cakalang yang nikmat sekali, walaupun tidak ada lauk lain. Kondisi di tengah laut membuat apapun makanan yang masuk ke perut terasa nikmat. Saya makan sambil mengobrol di tengah kapal yang terombang-ambing. Beberapa teman menceritakan siapa-siapa saja peserta yang sudah tewas alias mabuk laut. Setelah makan saya naik ke buritan menikmati pemandangan malam di tengah laut sembari merasakan terpaan angin yang cukup kencang. Saya belum sempat keliling kapal, toh masih ada besok pagi piker saya. Namun dari atas buritan saja saya sudah bisa melihat betapa besar dan beratnya kapal ini. Dengan beberapa teman saya berdiskusi mengenai kenapa kapal yang berat tidak tenggelam di laut. Saya anak IPS jadi mungkin memang lupa teori tekanan ke atas dan teori gravitasi di air laut. Lalu kami menyanyi diiringi dengan gitar sambil tiduran dan menatap bintang yang bertaburan. Ini pertama kalinya saya naik kapal dan langsung naik kapal perang TNI! Woow! Luar biasa.



KRI Teluk Cendrawasih 16 Juli 2009 Pukul 05.00 WITA


Saya semalam tertidur diatas buritan bersama Mario, Afif dan teman-teman lainnya. Saya terbangun pukul 05.00 WITA karena menggigil. Udara pagi sangat dingin menusuk kulit walaupun saya tidur dengan memakai jaket dan sarung. Kemudian saya naik ke bagian yang lebih atas dari KRI ini dan menantikan pemandangan sun rise dari atas kapal. Beberapa teman bergabung. Tak lama, semburat merah jingga muncul di timur, luar biasa indahnya. Kami berdecak kagum menyaksikan semua itu, saya sampai lupa mengambil kamera di ruang mesin tempat kamar pria-pria. Setelah puas dengan sun rise saya pergi untuk mandi. Nah, jangan heran kalau disini kamar mandi pria itu mirip pemandian umum. Ruangan dan baknya besar dan ada beberapa bilik toilet yang hanya ditutup oleh tirai transparan. Begitu saya masuk, ada beberapa orang yang sedang mandi, saya pun cuek langsung membuka baju dan mandi. Lumayan segar mengingat seharian kemarin badan saya sama sekali tidak menyentuh air.

KRI Teluk Cendrawasih 16 Juli 2009 Pukul 13.00



Selepas makan siang, saya menyempatkan berkeliling kapal KRI. Ternyata di dlamnya terdapat banyak sekali ruangan dengan fungsi yang bermacam-macam juga. Komandan KRI teluk cendrawasih pada perjalanan ini adalah Mayor Baroyo Eko Basuki. Dari informasi umum yang bisa dilihat di ruang komando, KRI teluk Cendrawasih bernomor 533 ini merupakan buatan Jerman berjenis Frosch-I/type 108 yang dibeli pemerintah Indonesia untuk TNI AL pada tahun 1994 pada masa pemerintahan Soeharto.


Berat kapal ini 1.900 ton dengan dimensi 90,70 m x 11,12 m x 3,4 m, ditenagai oleh 2 mesin diesel yang mampu mengahsilkan 12.000 bhp dan sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 18 knot. Diawaki oleh maksimal 42 pelaut dan mampu mengangkut kargo hingga seberat 600 pon.

KRI teluk cendrawasih menurut salah satu kru yang bertugas bukan merupakan armada tempur maupun pemukul, tetapi pengangkut logistik. Namun, untuk pertahanan KRI ini dipersenjatai oleh satu kanon laras ganda caliber 37 mm model 1939, 1 meriam bofors 40/70 berkaliber 40 mm dengan kecepatan tembakan 120-160 rpm jangkauan 10 km untuk target permukaan terbatas dan target udara serta dua kanon laras ganda caliber 25 mm.


KRI Teluk Cendrawasih 16 Juli 2009 Pukul 15.00

Pulau Miangas sudah terlihat dari jauh. Waaaw! Kami melakukan briefing bersama para dosen pendamping diatas KRI. Kami diminta bersiap-siap karena kurang lebih 2 jam lagi kapal bisa merapat di dermaga Miangas. Saya terheran-heran, mengapa sampai dua jam? Padahal pulau Miangas sudah terlihat dengan jelas. Ternyata itu jaraknya masih sangat jauh, kalau di laut kita sudah melihat Pulau di depan kita bukan berarti jarak kita sudah dekat.


Kami juga dikabari oleh dosen bahwa aka nada penyambutan dari masyarakat Miangas yang sudah siap dari siang tadi. Setelah briefing saya membereskan barang-barang pribadid an langsung naik ke atas lagi. Beberapa teman sedang ikut berkaraoke bersama anak-anak SMA yang ikut jelajah maritime bersama AL. Saya pun menyumbangkan lagu, jarak ke Miangas semakin dekat namun, KRI hanya berputar-putar mengelilingi pulaunya. Belakangan saya tahu ombak besar tidak memungkinkan kapal untuk bersandar karena takut tergoresang-karang tajam di bawah laut dan bisa menimbulkan kebocoran.

KRI teluk Cendrawasih Pukul 18.00




Kapal merapat namun ombak yang kencang menyulitkan proses pemindahan barang dan manusia ke pulaunya. Kapal KRI yang tinggiberjarak sekitar 1-2 meter dari dermaga. Peserta laki-laki langsung diminta loncat ke dermaga. Sementara yang perempuan perlu dibantu oleh beberapa orang untuk meloncat. Warga sudah banyak yang membantu proses pemindahan barang. Untuk drum-drum berisi minyak tanah di lempar ke laut dan di bawa oleh beberapa anggota ke pantai melalui laut. Ombak yang besar membuat KRI terguncang-guncang dan beberapa kali menabrak dermaga sehingga terasa bergoyang. Alhamdulillah, semua mahasiswa akhirnya berhasil menginjakkan kaki di dermaga Miangas, walaupun ada beberapa yang terkilir kakinya. Sambil menunggu proses penurunan barang, saya sempat didatangi beberapa orang pemuda setempat, saya tersenyum. Mereka tampak tidak sungkan mengenalkan diri dan berbicara dengan pendatang. Saya berkenalan dengan Kiki, Yono dan Markus yang belakangan banyak membantu saya beradaptasi dengan warga lokal dan menyukseskan program-program kami.

Dermaga Miangas Pukul 19.00 WITA



Dengan suasana temaram, kami disambut dengan upacara penyambutan oleh para mangkubumi ( tetua adat Miangas ) yang berjumlah delapan orang memakai kain menyerupai jubah putih panjang bergaris merah dan ikat kepala berwarna merah yang merupakan pakaian adat pria Miangas. Setelahnya kami langsung diarak menuju pendopo kecamatan yang berada disisi lain Pulau Miangas. Jaraknya dari dermaga sekitar 100 meter. Dalam perjalanan menuju kesana kami disuguhkan pemandangan rumah-rumah semi permanen masyarakat Miangas, beserta beberapa warga yang berbondong-bondong mengikuti kami ke pendopo. Kami berusaha berbaur dengan mereka. Awalnya sedikit sulit mencerna kata-kata mereka karena mereka berbicara dengan cepat, logat yang khas dan bahasa gado-gado Indonesia-Miangas. Lama kelamaan kami terbiasa mendengar logatnya dan berusaha mengikuti bahasa mereka untuk mempermudah komunikasi.

Pendopo Kecamatan Pukul 20.00 WITA




Sesampainya di Miangas kami disuguhi berbagai penganan lokal yang rasanya langsung membuat saya jatuh cinta. Cita rasa asin pedas khas Sulawesi Utara itu membuatkami ketagihan, apalagi belakangan kami sering sekali makan masakan rumah yang kebanyakan adalah sea food. Setelah berkenalan dengan pejabat kecamatan dan desa, serta pengurus gereja. Kami langsung diminta ke rumah yang sudah disiapkan dan berkenalan dengan keluarga baru kami di Miangas.

Saya bersama Adrian menempati rumah Asher, yang tinggal bersama mamak, adiknya Markus beserta istri. Rumah tembok semi permanen itu cukup nyaman bagi saya dan Adrian. Ruang tamu hanya berisi 4 buah kursi plastic dan meja, jendela tanpa kaca sehingga angin bisa masuk ke dalam rumah, lantai semen kasar sehingga kami harus memakai alas kaki ke dalam rumah, satu dapur beralaskan tanah dengan perapian tradisional dan satu kompor minyak serta satu kamar mandi dan satu jamban yang letaknya bersebelahan.




Setelah mengobrol dan berkenalan saya pun pamit tidur karena sudah tidak kuat menahan kantuk yang menyerang. Sebelum tidur saya tersenyum sendiri, mengenang semua perjalanan saya yang luar biasa sehingga bisa sampai Miangas dan sekarang saya sudah menginjakkan kaki di tanah Opa Mura, semuanya tidak seburuk yang saya bayangkan. Semua berjalan baik sejauh ini, saya pun berdoa semoga semua program-program K2N kami bisa berjalan dengan baik tanpa hambatan berarti dan bisa mendatangkan kebermanfaatan bagi masyarakat Miangas.

Saya, K2N dan Perbatasan


Di tulisan sebelumnya saya pernah bercerita tentang kuliah Prof Sri-Edi Swasono ( mantan Kepala Bappenas) yang menanyakan letak beberapa pulau terdepan di Indonesia. Tidak ada satu pun di kelas saya yang bisa menjawab, termasuk saya. Nama-nama tersebut sangat asing di telinga saya, seperti Miangas, Meos Befondi, Waingapu, dan yang lainnya. Sejak saat itu saya malu sebagai orang Indonesia yang tidak mengenal dengan baik negeri saya sendiri. Saya yang tergabung dalam organisasi gerakan di kampus tidak terlalu peduli dengan isu pulau-pulau terdepan dan perbatasan, padahal isu-isu kenaikan BBM, Badan Hukum Pendidikan, Anggaran Negara, Kemiskinan dan isu-isu nasional lainnya selalu di bahas di forum-forum aksi strategis organisasi kampus. Lantas, siapakah rakyat Indonesia yang diperjuangkan hak-haknya oleh para mahasiswa, hanya orang Jawa kah? Hanya masyarakat yang kita kenal kah? Tidakkah kalian tahu bahwa masyarakat yang jauh di pelosok sana ternyata juga butuh perhatian? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mengganggu pikiran saya. Saya ingin melakukan aksi nyata, pengabdian sosial yang bisa meringankan beban masyarakat secara langsung, tidak melalui aksi-aksi negosiasi dengan pemerintah, aksi demonstrasi di jalanan serta berbagai lobi-lobi dengan anggota dewan yang biasa saya lakukan bersama organisasi di BEM. Aksi-aksi tersebut hanya berhasil memblow-up isu di media namun sasaran yang diharapkan sulit dicapai.

Saya semester 4 ketika itu, ada pengumuman di fakultas mengenai Kuliah-kerja Nyata UI di Pulau Miangas. Seketika saya terkesiap, teringat pertanyaan-pertanyaan di kelas Pak Edi, saya berpikir ini kesempatan itu. Kesempatan untuk mengenal masyarakat yang tinggal di Pulau terdepan, kesempatan untuk melihat sendiri keadaan masyarakat di tapal batas, saya harus mendaftar. Pikiran saya kala itu hanya satu, saya harus ikut K2N di Pulau Miangas. Sejenak saya terpaku pada persyaratan, min. memperoleh 90 sks, berarti setara dengan mahasiswa semester 6, saya sendiri baru 84 sks kala itu. Sedikit putus asa, saya beranikan diri untuk tetap mendaftar. Essai mengenai program yang direkomendasikan sesuai jurussan saya sudah disiapkan, formulir dan transkrip beserta foto juga sudah siap. Dengan modal nekad saya masukan seluruh berkas ke Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu (PPMT) Rektorat UI.

Tak disangka, saya lolos seleksi administrasi dan mendapat panggilan interview, pada tanggal yang ditentukan saya diinterview oleh Bapak Drs. Priadi Primadi, M.Si, yang akrab disapa Mas Pri yang juga sebagai ketua panitia K2N UI 2009. Isi wawancara lebih kearah gambaran mengenai program K2N serta essai yang telah dibuat. Mas Pri banyak mempertanyakan visibilitas rekomendasi program Strategic Business Unit yang saya ingin terapkan disana. Beliau memaparkan gambaran kondisi di Pulau Miangas yang didapatnya dari Pos AD di sana. Disitus saya cukup pesimis karena Nampak Mas Pri tidak pusa dengan jawaban-jawaban yang saya kemukakan. Lalu pertanyaan beralih ke masalah keahlian berenang, pengalaman naik kapal laut dan hal-hal teknis lainnya. Saya iyakan semua pertanyaan karena sebetulnya yang diinginkan adalah apakah kita benar-benar siap berangkat kesana dan menanggung semua risikonya. Sebagaimana diketahui perjalanan ke Miangas yang paling berat adalah dari pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara menuju Miangas harus menggunakan kapal perintis selama 3 hari atau kapal KRI milik TNI AL selama kurang lebih 24 jam dengan kondisi ombak yang tinggi dan cuaca yang tidak bisa diprediksi sepanjang bulan Juli.

Kira-kira dua minggu sampai akhirnya saya dinyatakan lolos sebagai peserta K2N di Miangas. Saya senang bukan main, yang saya pikirkan adalah bahwa saya berkesempatan berbagi ilmu dan juga belajar dari masyarakat di perbatasan sana. Saya sampai lupa bahwa, K2N ini adalah mata kuliah 3 sks yang tentu saja akan berakhir dengan nilai A, B, C, D atau E di SIAK NG saya. Saya mengikuti pembekalan selama kurang lebih satu bulan mengenai program, pengetahuan geopolitik, pertahanan serta berbagai isu perbatasan. Pemateri didatangkan dari kementrian pertahanan, panglima TNI, ahli sejarah dan pemerhati perbatasan. Saya senang luar biasa mendapatkan materi-materi yang barangkali tidak bisa didapatkan dari tempat lain. Saya sadar pentingnya menjaga keutuhan NKRI agar tidak ada kasus sengketa perbatasan yang merugikan bangsa sendiri sebagai mana terjadi untuk kasus lepasnya pulau sipadan dan ligitan serta ambalat. Dari situ saya juga tahu ada yang namanya universitas pertahanan, jenjang S2 dibawah kementrian pertahanan. Saya menjadi sedikit banyak tertarik untuk ikut program S2 di Universitas Pertahanan, siapa tahu bsia jadi mentri pertahanan kalau tidak bisa jadi mentri ekonomi, begitu pikir saya.

Sementara untuk program kelompok saya mendapat tugas mengajar bahasa inggris untuk anak-anak serta pelatihan manajemen koperasi. Semua materi kelompok harus dipersiapkan sendiri. Saya bekerja sama dengan kementrian KUKM dalam persiapan pelatihan koperasi terutama proses pendirian koperasi. Untuk program English for Children and Tourism kami menyusun sendiri silabusnya berdasarkan buku-buku yang ada. Satu bulan di Miangas mengajarkan banyak hal bagi saya, bagaimana sulitnya hidup di daerah terisolir, akses komunikasi sangat terbatas, transportasi keluar pulau 2 minggu sekali, listrik hanya menyala 6 jam di malam hari, sulitnya mencari makanan di saat cuaca buruk dimana nelayan tidak melaut dan kapal yang membawa bahan makanan dari luar pulau juga tidak berlayar, bosannya hidup tanpa hiburan dan bertemu dengan orang yang itu-itu saja. Aaakh, saya dan teman-teman lain tentu banyak belajar.

Satu yang membuat kami bangga adalah, mereka ternyata lebih cinta dan bangga dengan bangsa Indonesia dibandingkan kita yang justru ada di pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Mereka lebih menyenangi bersenandung lagu-lagu nasional dibandingkan lagu-lagu pop yang bisa mereka lihat dari TV pada saat lampu menyala, mereka lebih khidmat melaksanakan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus disbanding saya yang bahkan hanya melihat prosesinya dari televisi, mereka lebih semarak dan bersuka cita mengikuti berbagai lomba 17an disbanding saya yang bahkan lebih memilih untuk tinggal di rumah daripada mengikuti acara semacam itu. Ya, kami datang berharap bisa menularkan rasa nasionalisme kami kepada mereka, yang terjadi adalah kami yang belajar semangat nasionalisme dari mereka.Terima kasih manambo nambo Miangas, Mao Yapalulu Miangas.

Tentang K2N UI 2009

Universitas Indonesia untuk pertama kalinya mengadakan kuliah kerja nyata di luar Pulau Jawa. Tidak tanggung-tanggung, daerah yang dipilih sebagai target berbagai program K2N ini merupakan pulau kecil di ujung utara Indonesia, yaitu Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina. Mengusung tema “Dengan kuliah kerja nyata kita amalkan tri dharma perguruan tinggi dan Kita Tingkatkan Semangat Nasionalisme untuk menjaga NKRI”, diharapkan kedatangan rombongan mahasiswa Universitas Indonesia di Pulau Miangas, bisa meningkatkan semangat nasionalisme di perbatasan yang selama ini masih kurang diperhatikan oleh pemerintah.

K2N sendiri merupakan salah satu kegiatan yang mampu mengantarkan mahasiswa menjadi individu yang lengkap, baik dalam penguasaan ilmu, kemampuan menganalisa masyarakat sekitar, serta memberikan solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial, ekonomi maupun politik sesuai keilmuan yang mereka miliki. Disamping itu, melalui kegiatan ini mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam berbagai hal, seperti kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar yang baru, memunculkan kepedulian mahasiswa terhadap berbagai perkembangan yang setiap saat muncul, meningkatkan rasa nasionalisme, meningkatkan jiwa kristis dan kemudian melakukan kegiatan penelitian dan lain sebagainya.

Universitas Indonesia sebagai universitas yang menyandang nama negaranya memiliki beban tersendiri untuk bisa mengabdikan ilmu kepada masyarakat Indonesia di seluruh pelosok tanah air. Untuk itu melalui program ini UI mempunyai misi menjadikan mahasiswanya sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan professional, keterampilan, kepemimpinan yang tanggap terhadap kebutuhan pembangunan bangsa dan Negara serta mempunyai kemampuan memotivasi masyarakat dalam mengisi dan mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia. K2N UI tahun 2009 yang dilaksanakan tanggal 13 Juli- 18 Agustus 2009 ini merupakan bentuk pengabdian UI kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).




Dalam prakteknya di lapangan tim K2N UI yang berjumlah 71 mahasiswa dibagi ke dalam 7 kelompok yang mengusung program yang berbeda-beda. Kelompok 1 (Hasanudin) membawa program Pemberdayaan Kuliner Laut, kelompok 2 (Gatot Subroto) mengusung program pengembangan potensi pariwisata Miangas, kelompok 3 (kelompok penulis-red) Yos Sudarso melaksanakan program Pelatihan Bahasa Inggris dan Pelatihan Manajemen Koperasi, Kelompok 4, Pattimura melaksanakan program Kreasi Makanan Ringan dari Sumber Daya alam Pulau Miangas, Kelompok 5, Sam Ratulangi menyampaikan program Pengembangan Kerajinan Tangan, kelompok 6 ( Christina Martha Tiahahu) menjalankan program maksimalisasi budidaya pohon kelapa, kelompok 7 ( Bung Karno) melaksanakan program pemberdayaan wanita melalui tata rias dan tata busana. Selain program-program tersebut yang menjadi tanggung jawab kelompok, masing-masing kelompok juga harus melaksanakan program rutin yang pelaksanaanya dilakukan secara bergiliran. Ada tujuh program rutin yang dijalankan, yaitu program rumah baca sahabat nusantara, mendongeng dan bermain permainan tradisional anak, melayani lansia dan menjenguk orang sakit, penyuluhan hukum, penyuluhan kesehatan dan gizi untuk perempuan, penyuluhan kebersihan untuk anak sekolah, serta penyuluhan kesehatan lingkungan ( pemanfaatan peakarangan ) untuk remaja pria dan Bapak-bapak.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More