Thursday, June 23, 2011

Saya, K2N dan Perbatasan


Di tulisan sebelumnya saya pernah bercerita tentang kuliah Prof Sri-Edi Swasono ( mantan Kepala Bappenas) yang menanyakan letak beberapa pulau terdepan di Indonesia. Tidak ada satu pun di kelas saya yang bisa menjawab, termasuk saya. Nama-nama tersebut sangat asing di telinga saya, seperti Miangas, Meos Befondi, Waingapu, dan yang lainnya. Sejak saat itu saya malu sebagai orang Indonesia yang tidak mengenal dengan baik negeri saya sendiri. Saya yang tergabung dalam organisasi gerakan di kampus tidak terlalu peduli dengan isu pulau-pulau terdepan dan perbatasan, padahal isu-isu kenaikan BBM, Badan Hukum Pendidikan, Anggaran Negara, Kemiskinan dan isu-isu nasional lainnya selalu di bahas di forum-forum aksi strategis organisasi kampus. Lantas, siapakah rakyat Indonesia yang diperjuangkan hak-haknya oleh para mahasiswa, hanya orang Jawa kah? Hanya masyarakat yang kita kenal kah? Tidakkah kalian tahu bahwa masyarakat yang jauh di pelosok sana ternyata juga butuh perhatian? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mengganggu pikiran saya. Saya ingin melakukan aksi nyata, pengabdian sosial yang bisa meringankan beban masyarakat secara langsung, tidak melalui aksi-aksi negosiasi dengan pemerintah, aksi demonstrasi di jalanan serta berbagai lobi-lobi dengan anggota dewan yang biasa saya lakukan bersama organisasi di BEM. Aksi-aksi tersebut hanya berhasil memblow-up isu di media namun sasaran yang diharapkan sulit dicapai.

Saya semester 4 ketika itu, ada pengumuman di fakultas mengenai Kuliah-kerja Nyata UI di Pulau Miangas. Seketika saya terkesiap, teringat pertanyaan-pertanyaan di kelas Pak Edi, saya berpikir ini kesempatan itu. Kesempatan untuk mengenal masyarakat yang tinggal di Pulau terdepan, kesempatan untuk melihat sendiri keadaan masyarakat di tapal batas, saya harus mendaftar. Pikiran saya kala itu hanya satu, saya harus ikut K2N di Pulau Miangas. Sejenak saya terpaku pada persyaratan, min. memperoleh 90 sks, berarti setara dengan mahasiswa semester 6, saya sendiri baru 84 sks kala itu. Sedikit putus asa, saya beranikan diri untuk tetap mendaftar. Essai mengenai program yang direkomendasikan sesuai jurussan saya sudah disiapkan, formulir dan transkrip beserta foto juga sudah siap. Dengan modal nekad saya masukan seluruh berkas ke Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu (PPMT) Rektorat UI.

Tak disangka, saya lolos seleksi administrasi dan mendapat panggilan interview, pada tanggal yang ditentukan saya diinterview oleh Bapak Drs. Priadi Primadi, M.Si, yang akrab disapa Mas Pri yang juga sebagai ketua panitia K2N UI 2009. Isi wawancara lebih kearah gambaran mengenai program K2N serta essai yang telah dibuat. Mas Pri banyak mempertanyakan visibilitas rekomendasi program Strategic Business Unit yang saya ingin terapkan disana. Beliau memaparkan gambaran kondisi di Pulau Miangas yang didapatnya dari Pos AD di sana. Disitus saya cukup pesimis karena Nampak Mas Pri tidak pusa dengan jawaban-jawaban yang saya kemukakan. Lalu pertanyaan beralih ke masalah keahlian berenang, pengalaman naik kapal laut dan hal-hal teknis lainnya. Saya iyakan semua pertanyaan karena sebetulnya yang diinginkan adalah apakah kita benar-benar siap berangkat kesana dan menanggung semua risikonya. Sebagaimana diketahui perjalanan ke Miangas yang paling berat adalah dari pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara menuju Miangas harus menggunakan kapal perintis selama 3 hari atau kapal KRI milik TNI AL selama kurang lebih 24 jam dengan kondisi ombak yang tinggi dan cuaca yang tidak bisa diprediksi sepanjang bulan Juli.

Kira-kira dua minggu sampai akhirnya saya dinyatakan lolos sebagai peserta K2N di Miangas. Saya senang bukan main, yang saya pikirkan adalah bahwa saya berkesempatan berbagi ilmu dan juga belajar dari masyarakat di perbatasan sana. Saya sampai lupa bahwa, K2N ini adalah mata kuliah 3 sks yang tentu saja akan berakhir dengan nilai A, B, C, D atau E di SIAK NG saya. Saya mengikuti pembekalan selama kurang lebih satu bulan mengenai program, pengetahuan geopolitik, pertahanan serta berbagai isu perbatasan. Pemateri didatangkan dari kementrian pertahanan, panglima TNI, ahli sejarah dan pemerhati perbatasan. Saya senang luar biasa mendapatkan materi-materi yang barangkali tidak bisa didapatkan dari tempat lain. Saya sadar pentingnya menjaga keutuhan NKRI agar tidak ada kasus sengketa perbatasan yang merugikan bangsa sendiri sebagai mana terjadi untuk kasus lepasnya pulau sipadan dan ligitan serta ambalat. Dari situ saya juga tahu ada yang namanya universitas pertahanan, jenjang S2 dibawah kementrian pertahanan. Saya menjadi sedikit banyak tertarik untuk ikut program S2 di Universitas Pertahanan, siapa tahu bsia jadi mentri pertahanan kalau tidak bisa jadi mentri ekonomi, begitu pikir saya.

Sementara untuk program kelompok saya mendapat tugas mengajar bahasa inggris untuk anak-anak serta pelatihan manajemen koperasi. Semua materi kelompok harus dipersiapkan sendiri. Saya bekerja sama dengan kementrian KUKM dalam persiapan pelatihan koperasi terutama proses pendirian koperasi. Untuk program English for Children and Tourism kami menyusun sendiri silabusnya berdasarkan buku-buku yang ada. Satu bulan di Miangas mengajarkan banyak hal bagi saya, bagaimana sulitnya hidup di daerah terisolir, akses komunikasi sangat terbatas, transportasi keluar pulau 2 minggu sekali, listrik hanya menyala 6 jam di malam hari, sulitnya mencari makanan di saat cuaca buruk dimana nelayan tidak melaut dan kapal yang membawa bahan makanan dari luar pulau juga tidak berlayar, bosannya hidup tanpa hiburan dan bertemu dengan orang yang itu-itu saja. Aaakh, saya dan teman-teman lain tentu banyak belajar.

Satu yang membuat kami bangga adalah, mereka ternyata lebih cinta dan bangga dengan bangsa Indonesia dibandingkan kita yang justru ada di pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Mereka lebih menyenangi bersenandung lagu-lagu nasional dibandingkan lagu-lagu pop yang bisa mereka lihat dari TV pada saat lampu menyala, mereka lebih khidmat melaksanakan upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus disbanding saya yang bahkan hanya melihat prosesinya dari televisi, mereka lebih semarak dan bersuka cita mengikuti berbagai lomba 17an disbanding saya yang bahkan lebih memilih untuk tinggal di rumah daripada mengikuti acara semacam itu. Ya, kami datang berharap bisa menularkan rasa nasionalisme kami kepada mereka, yang terjadi adalah kami yang belajar semangat nasionalisme dari mereka.Terima kasih manambo nambo Miangas, Mao Yapalulu Miangas.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More